Rabu, 12 Juni 2013

Akhlak Iman terhadap AL Qurán



I.                   PENDAHULUAN
Iman menjadi dasar untuk berperilaku bagi setiap insan yang mengaku dirinya muslim. Karena dengan iman seseorang akan merasakan adanya dzat yang Maha Halus dan Maha Mengetahui, yang tidak hanya menghindarkan orang dari bebuat jahat tapi juga memotifasi untuk berbuat baik atau melakukan akhlak terpuji. Iman di dalam Islam berarti percaya kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rosul-rosulNya, hari akhir, serta qodho’ dan qodar. Beriman kepada Allah berarti juga beriman kepada lima lainnya termasuk kitab-kitab Allah yang diturunkan kepada nabi-nabi.
Al Qur’an merupakan sumber ajaran Islam, salah satunya mengajarkan tentang akhlak. Akhlak terhadap Allah, akhlak terhadap sesama makhluk. Kedudukan akhlak dalam kehidupan manusia menempati tempat yang penting, sebagai individu maupun masyarakat dan bangsa, sebab jatu bangunnya suatu masyarakat tergantung bagimana akhlaknya. Apabila akhlaknya baik, maka sejahteralah lahir dan batinnya, apabila akhlaknya buruk maka rusaklah lahir dan batinnya.[1]
Akhlak yang baik membuat seseorang menjadi aman, tenang dan tidak adanya perbuatan yang tercela. Seseorang yang berakhlak mulia selalu melksanakan kewajiban-kewajibannya, kewajiban terhadap dirinya sendiri, terhadap tuhan, terhadap makhluk lain dan terhadap manusia.
Seseorang yang berakhlak buruk menjadi sorotan, contoh:  melanggar norma yang berlaku di masyarakat, penuh dengan  sifat tercela, tidak melaksanakan kewajiban maka yang demikian ini menyebabkan kerusakan susunan sistem masyarakat sama halnya dengan anggota tubuh yang terkena penyakit.

II.                   RUMUSAN MASALAH
A.           Apa pengertian akhlak?
B.            Apasajakah nilai-nilai akhlak dalam kehidupan?
C.            Pengertian beriman kepada Al Qur’an?
D.           Bagaimana nilai-nilai akhlak dalam beriman terhadap Al Qur’an?
III.                   PEMBAHASAN
A.           Pengertian akhlak
Ahmad Musthofa dalam bukunya yang berjudul akhlak tasawuf mengatakan bahwa dalam bahasa akhlak merupakan bentuk jamak dari khuluq (khuluqun) yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku, atau tabi’at.[2] Khuluq merupakan gambaran sifat batin manusia, gambaran bentuk lahiriah manusia, seperti raut wajah, gerak anggota badan dan seluruh tubuh. [3] Sedangkan menurut istilah ada beberapa pendapat yang sedikit berbeda dari para ahli. Pendapat-pendapat tersebut anatara lain:
1.             Imam Al Ghazali mengatakan bahwa akhlak ialah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan bermacam-macam perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan terlebih dulu.
2.             Ibnu Maskawaih medefinisikan akhlak sebagai suatu keadaan yang melekat pada jiwa manusia, yang berbuat dengan mudah, tanpa melalui proses pemikiran atau pertimbangan.
3.             Soegarda Poerbakawatja mengatakan akhlak adalah budi pekerti, watak, kesusilaan, dan kelakuan baik yang merupakan akibat dari sikap jiwa yang benar terhadap khaliknya dan terhadap manusia.
4.             M. Abdullah Daraz mendefinisikan akhlak sebagai suatu kekuatan dalam kehendak yang mantap, kekuatan berkombinasi membawa kecenderungan pada pemilihan pihak yang benar atau pihak yang salah.
5.             Ahmad Amin mengatakan, akhlak adalah menangnya suatu keinginan dari beberapa keinginan manusia dengan langsung secara berturut-turut.[4]
Dapat kita simpulkan bahwa akhlak adalah suatu tindakan manusia yang dilakukan tanpa melaui pertimbangan. Jadi, ketika seseorang melakukan sesuatu baik itu perbuatan terpuji atau tidak, semua itu bisa disebut akhlak. Pada hakikatnya, akhlak adalah suatu kondisi atau sifat yang telah meresap dalam jiwa dan telah menjadi kepribadian. Dari sini muncullah berbagai macam perbuatan secara spontan tanpa dibuat-buat.[5] Akhlak juga bisa dikatakan sebagai hasil dari suatu kebiasaan. Jika seseorang terbiasa melakukan perbuatan baik, maka kebiasaan ini bisa dikatakan sebagai akhlak yang baik.
Akhlak ada dua macam, yaitu akhlak terpuji dan akhlak tercela. Di dalam Islam, para penganutnya diperintahkan untuk mengamalkan akhlak terpuji dan meninggalkan akhlak tercela. Perintah ini terdapat dalam beberapa ayat Al Qur’an, diantaranya surat al Ahzab  ayat 21 yaitu:
ôs)©9 tb%x. öNä3s9 Îû ÉAqßu «!$# îouqóé& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ötƒ ©!$# tPöquø9$#ur tÅzFy$# tx.sŒur ©!$# #ZŽÏVx. ÇËÊÈ  
Artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. ( Q. S. Al Ahzab: 21)

B.            Nilai-nilai akhlak dalam kehidupan
Akhlak secara garis besar terbagi menjadi dua bagian, yaitu akhlak terhadap khaliq (Yang Menciptakan); dan akhlak terhadap makhluk (yang diciptakan). Dari dua bagian ini, akhlak mengandung semua nilai yang diperlukan oleh manusia untuk keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Nilai-nilai tersebut dapat dibagi menjadi 5 macam, yakni:
1.       Al – akhlaq al – diniyyah (nilai – nilai keagamaan)
Nilai- nilai agama adalah akhlak yang bersangkutan dengan kewajiban hamba kepada Tuhannya, hal ini meliputi:
a.    Beriman kepada Allah, kepada rasul – rasul-Nya, malaikat – malaikat-Nya, kitab – kitab-Nya, qodlo dan qodhar, serta beriman kepada hari akhir. Bersyahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji.
b.    Taat kepada Allah secara mutlak yakni menjalankan semua perintah – Nya, dan menjauhi segala larangan – Nya serta takutlah pada Allah.
c.    Memikirkan ayat-ayat –Nya
d.   Mensyukuri nikmat – Nya
e.     Bertawaqal kepada – Nya
f.      Berdo’a kepada Allah dengan penuh takut dan harap
g.    Tidak putus asa dari rahmat – Nya
h.    Menggantungkan segala perbuatan masa depan kepada kehendak – Nya, maksudnya adalah jangan kita berjanji untuk mengerjakan suatu hal. Kecuali dengan mengucapkan “insya Allah”
i.      Selalu mengingat Allah
j.      Menyucikan dan membesarkan – Nya dengan cara bedzikir kepada Allah dan bertasbih kepada Allah dikala waktu pagi dan petang
k.    Mengerjakan shalat yang diwajibkan
l.      Bertobat dan memohon ampunan kepada – Nya
m.  Mencintai Allah melebihi segala-galanya
n.    Tidak membalas cercaan orang musryik
o.    Menjauhi majleis-majelis  yang membantah kebenaran Allah
p.    Jangan banyak bersumpah dengan nama Allah
q.    Menghormati sumpah, bila telah bersumpah

2.      Al – akhlaq al –fardiyyah (nilai – nilai perseorangan)
a.    Kesucian jiwa
b.   Menguasai nafsu
c.    Teguh pendirian
d.   Menjaga nafsu makan dan seks yaitu dengan menjalankan puasa dan tidak    mengumpuli pasangan halal kita pd waktu-waktu tertentu, seperti haid
e.    Menahan rasa marah yaitu memaafkan kesalahan orang lain
f.    Lemah lembut dan rendah hati
g.   Berhati-hati dalam mengambil keputusan dan berlaku teliti dalam mengambil tindakan
h.   Istiqomah dan sabar
i.     Beramal soleh
j.     Menjauhi buruk sangka
k.   Berhati ikhlas
l.     Istiqomah dan sabar
3.      Al – akhlaq al – usratiyyah (nilai – nilai kekeluargaan)
a.    Berbuat baik dan menghormati orang tua
b.   Memelihara kehidupan anak-anak
c.    Memberikan pendidikan akhlak keapada anak
d.   Persamakan hak dan kewajiban antara istri dan suami
e.    Berusaha memperbaiki dalam keadaan berselisih
f.    Berbagi kepada kaum kerabat dan berwasiat untuk mereka
4.       Al – akhlaq al – ijtima’iyyah (nilai – nilai sosial)
Yang diperintahkan:
a.       Memenuhi amanah
b.      Mengatur perjanjian untuk menyelesaikan sesuatu yang meragukan
c.       Menepati janji
d.      Member persaksian yang benar
e.       Mendamaikan orang mukmin yang berselisih
f.       Memelihara hubungan silaturrohmi
g.      Tolong menolong
h.      Menyempurnakan takaran dan timbangan
i.         Mengembangkan harta anak yatim
j.         Mengajak kepada kebaikan dan melarang kemungkaran
k.       Menyebarkan ilmu pengetahuan
Yang terlarang:
a.       Zina
b.      Riba
c.       Mencuri/menipu
d.      Judi
e.       Memakan harta anak yatim
f.       Menganiaya
g.      Mengejek atau mengolok-olok
h.      Memata-matai orang (mencari-cari kesalahan orang)
i.         Memperlakukan anak yatim dan orang miskin dengan buruk
j.         Sombong
k.       Bermaksud jahat atau menuduh wanita yang baik berzina
l.        Tata tertib kesopanan
m.    Meminta izin sbelum masuk ke rumah orang lain
n.      Merendahkan suara dan jangan memanggil orang dewasa dari jauh dengan berteriak-teriak
o.      Memberi salam ketika masuk ke rumah orang lain
5.      Al – akhlaq al – dauliyyah (nilai-nilaikenegaraan)
Hubungan antara kepala Negara dengan rakyat, yang meliputi:
Kewajiban kepala Negara yang meliputi:
a.       Bermusyawarah dengan rakyat
b.      Menandatangani keputusan terakhir
c.       Sesuai dengan prinsip keadilan
d.      Menjaga ketentraman
e.       Menjaga harta benda rakyat
f.       Mengumpulkan zakat
g.      Tidak membatasi kegunaan harta bagi orang-orang tertentu saja (kaya, berkuasa, dll)
h.      Melaksanakan hukum Allah
i.        Golongan minoritas dalam masyarakat mempunyai hak yang sama dari segi undang-undang.
 Kewajiban rakyat yang meliputi:
a.       Displin
b.      Taat yang bersyarat
c.       Bersatu disekitar cita-cita yang tertinggi
d.      Bermusyawaroh dalam persoalan orang banyak
e.       Menjauhi kerusakan
f.       Menyiapkan diri untuk membela Negara
g.      Menjaga mutu moral dan semangat rakyat
h.      Menjauhi supaya tidak membantu musuh
i.        Menjaga hubungan antar Negara dan menjalin persaudaraan dengan Negara lain
Itulah nila-nilai akhlak yang diajarkan agama Islam, begitu indah tuntunannya dan akan membawa kita kejalan yang benar bila kita mengamalkannya.[6]
C.            Pengertian beriman kepada Al Qur’an
Iman menurut bahasa berarti pembenaran hati. Sedangkan menurut istilah, iman adalah membenarkan dengan hati, mengikrarkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota badan.[7]
Al Qur’an adalah kalam Allah SWT yang mu’jiz (melemahkan dan menundukkan orang-orang yang menentangnya) yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW dalam bentuk wahyu, yang ditulis dalam bentuk mushhaf dan dihafal di dalam dada, yang dibaca dengan lisan dan didengar oleh telinga, yang dinukil kepada kita secara mutawatir, tanpa ada keraguan, dan membacanya dinilai ibadah.[8]
Jadi dengan kata lain iman kepada kitab suci Al Qur'an adalah kita harus mempercayai akan kebenaran semua ayat-ayat yang ada dalam kitab suci Al Qur'an tanpa ada keraguan terhadap kandungan ayat tersebut, meskipun hanya satu ayat. Maka dari itu, apabila kita masih ragu terhadap kandungan ayat-ayat Al Qur'an meskipun hanya satu ayat saja, maka dipastikan iman kita belum sempurna.
Beriman kepada kitab-kitab Allah adalah salah satu rukun iman. Iman di sini berarti membenarkan dengan penuh keyakinan bahwa Allah mempunyai kitab-kitab yang telah diturunkan kepada hamba-hambaNya dengan kebenaran yang nyata dan petunjuk yang jelas.[9] Beriman kepada Al Qur’an adalah wajib dan perintah beriman kepada Al Qur’an terdapat dalam Al Qur’an itu sendiri.


Allah SWT berfirman:
z`tB#uä ãAqߧ9$# !$yJÎ/ tAÌRé& Ïmøs9Î) `ÏB ¾ÏmÎn/§ tbqãZÏB÷sßJø9$#ur 4 <@ä. z`tB#uä «!$$Î/ ¾ÏmÏFs3Í´¯»n=tBur ¾ÏmÎ7çFä.ur ¾Ï&Î#ßâur Ÿw ä-ÌhxÿçR šú÷üt/ 7ymr& `ÏiB ¾Ï&Î#ß 4 (#qä9$s%ur $uZ÷èÏJy $oY÷èsÛr&ur ( y7tR#tøÿäî $oY­/u šøs9Î)ur 玍ÅÁyJø9$# ÇËÑÎÈ  
Artinya: Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan Kami taat." (mereka berdoa): "Ampunilah Kami Ya Tuhan Kami dan kepada Engkaulah tempat kembali." (Q. S. Al Baqarah: 285)

D.           Nilai-nilai akhlak dalam beriman terhadap Al Qur’an
Berikut adalah nilai-nilai akhlak dalam beriman kepada al Qur’an, dimana kita mempercayai keberadaan al Quran sebagai kitab suci yang diturunkan Allah kepada umat manusia dan memperlakukan al Qur’an tersebut. Dan diantara nilai- nilai akhlak dalam beriman pada al Qur’an adalah nilai-nilai akhlaq ketika membaca Al-Qur’an, contohnya
a.       Membaca al Qur’an dalam kondisi yang paling sempurna, misalnya suci dari hadats, menghadap kiblat, duduk bersila, tidak bersandar atau duduk dengan posisi seenaknya atau duduk dengan posisi seenaknya atau posisi yang menggambarkan kecongkakan.
b.      Berusaha untuk memperindah suaraku ketika membacanya
c.       Memulai membacanya dengan bacaan ta’awwudz
d.      Membacanya dengan Tartil, jelas dan perlahan-lahan (sesuai dengan tajwid)
e.       Berusaha membacanya secara rutin
f.       Memilih tempat yang bersih dan suci saat membacanya, dan lebih utama di masjid.
g.      Apabila membaca ayat-ayat sajadah, aku berupaya untuk sujud tilawah
h.      Membaca Al-Qur’an dengan tenang, menjauhi tertawa, bergurau dan banyak bicara.
Selain nilai-nilai akhlak yang baik ketika membaca al Qur’an, termasuk juga nilai-nilai akhlak ketika berinteraksi dengan Al-Qur’an, seperti:
a.       Memuliakan Al-Qur’an, menyimpannya di tempat yang terhormat, yang mudah dilihat dan mudah diambil
b.      Eded Memungut sobekan-sobekan kertas Al-Qur’an, mengumpulkan, menyimpan atau membakarnya
c.       Bersungguh-sungguh mengamalkan isinya, melaksanakan perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya.
d.      Berusaha menghidupkan majelis-majelis Al-Qur’an, membaca secara bergantian sambil memperbaiki bacaan dan membaca pula artinya.
e.       Berusaha untuk menghafal Al-Qur’an, mengulang-ulang dan menjaganya.[10]

IV.                   KESIMPULAN
Akhlak merupakan tindakan manusia yang dilakukan tanpa melaui pertimbangan. Jadi, ketika seseorang melakukan sesuatu baik itu perbuatan terpuji atau tidak, semua itu bisa disebut akhlak.
 Nilai-nilai dalam akhlak secara garis besar terbagi menjdi 5, yaitu Al – akhlaq al – diniyyah (nilai – nilai keagamaan), Al – akhlaq al –fardiyyah (nilai – nilai perseorangan), Al – akhlaq al – usratiyyah (nilai – nilai kekeluargaan), Al – akhlaq al – ijtima’iyyah (nilai – nilai sosial), Al – akhlaq al – dauliyyah (nilai-nilaikenegaraan).
Iman kepada kitab suci Al Qur'an adalah kita harus mempercayai akan kebenaran semua ayat-ayat yang ada dalam kitab suci Al Qur'an tanpa ada keraguan terhadap kandungan ayat tersebut, meskipun hanya satu ayat.
Nilai-nilai akhlak dalam beriman kepada al Qur’an adalah mempercayai keberadaan al Quran sebagai kitab suci yang diturunkan Allah kepada umat manusia dan memperlakukan al Qur’an tersebut dengan akhlak yang baik.
V.                   PENUTUP
Demikian makalah ini penyusun buat, penyusun mohon maaf apabila dalam pembuatan makalah ini terdapat kekurangan. Penyusun meminta kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan makalah kami selanjutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.



[1] M. Yatimin Abdullah, Studi Akhlak Dalam Perspektif Al Qur’an, (Jakarta: Amzah, 2007), hlm. 1.
[2] A. Mustofa, Akhlak Tasawuf, (Bandung: Pustaka Setia, 1997), hlm. 11.
[3] M. Yatimin Abdullah, Studi Akhlak Dalam Perspektif Al Qur’an, (Jakarta: Amzah, 2007), hlm. 2.
[4] Ahmad Amin, Etika (Ilmu Akhlak), (Jakarta: Bulan Bintang, 1993), hlm. 62.
[5] M. Yatimin Abdullah, Studi Akhlak Dalam Perspektif Al Qur’an, (Jakarta: Amzah, 2007), hlm. 4.
[6] Rachmat Taufiq Hidayat, Khazanah Istilah Al-Quran, (Bandung: Miza, 1989), hlm. 78.
[7] Tim Ahli Ilmu Tauhid, Kitab Tauhid 2, (Jakarta: Darul Haq, 2012), hlm. 2.
[8] Tim Ahli Ilmu Tauhid, Kitab Tauhid 2, (Jakarta: Darul Haq, 2012), hlm. 74.
[9] Tim Ahli Ilmu Tauhid, Kitab Tauhid 2, (Jakarta: Darul Haq, 2012), hlm. 63.
[10] Ahmad sihabudin, Berakhlak Dengan Al-Qur’an, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), hlm. 78.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar